Saturday, April 15, 2017

Meningkatkan Minat Baca



Ketika orang banyak melakukan berbagai aktivitas dalam keseharian maka ada sebagian orang yang tidak bisa meninggalkan kebiasaan membaca. Padahal tidak semua orang memiliki kebiasaan membaca sekalipun memiliki banyak waktu.
Maka telaah ini perlu dibahas dengan berbagai aspek tinjauan, dan berbagai impact dari perilaku masyarakat gemar membaca dan masyarakat yang tidak terbiasa membaca, ataupun impact bagaimana kalau ada pemaksaan untuk membiasakan membaca.
Cara dan strategi yang dibangun ditingkat masyarakat akan mempengaruhi hasil yang akan diperoleh setalah 3 sampai 5 tahun mendatang. Tidak bisa dampak social terlihat dalam waktu singkat apabila tujuan merubah masyarakat non literasi menjadi literasi, bahkan mungkin saja masyarakat yang ileterasi (tidak mau membaca). Budaya vocal atau bertutur masyarakat yang terbentuk sejak dulu sulit kalau secara instan dirubah menjadi masyarakat gemar membaca apalagi sampai pada tingkatan masyarakat yang bisa mendokumentasikan dengan baik segala peristika, kejadian dengan tulisan.
Manfaat Membaca Dalam Kehidupan (tulisan diambil dari internet)

Pada dasarnya membaca adalah salah satu media penyerapan ilmu pengetahuan dan informasi, karena kemampuan baca yang tinggi akan memacu seseorang untuk mengembangkan diri melalui penyerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Membaca juga merupakan kegiatan yang memberdayakan beberapa indra secara bersamaan, karena melalui membacalah maka ilmu dapat direkam lebih banyak dan lebih lama. Secara umum manfaat dari membaca adalah :

a. Menambah dan memperluas wawasan dan pengetahuan

b. Memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah

c. Mempertajam tingkat pemikiran

d. Memiliki sikap obyektif terhadap masalah

e. selalu mementingkan fakta dan informasi

Minat baca memang belum didefinisikan secara tegas dan jelas. Namun Prof. A. Suhaenah Suparno dari IKIP Jakarta memberi petunjuk mengenai hal ini yaitu tinggi rendahnya minat baca seseorang seharusnya diukur berdasarkan frekuensi dan jumlah bacaan yang dibacanya. Namun perlu ditegaskan bahwa bacaan itu bukan merupakan bacaan wajib. Misalnya bagi pelajar, bukan buku pelajaran sekolah. Jadi seharusnya diukur dari frekuensi dan jumlah bacaan yang dibaca dari jenis bacaan tambahan untuk berbagai keperluan misalnya menambah pengetahuan umum.

Meningkatkan Budaya Baca

 Upaya Peningkatan Minat Baca
Sesungguhnya sejak tahun 1972 UNESCO telah memprioritaskan masalah pembinaan minat baca. Pada tahun tersebut diluncurkan program yang disebut dengan program buku untuk semua (books for all), yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan budaya baca masyarakat. Salah satu implementasi program ini adalah dicanangkan International Book Year 1972 (Tahun Buku Internasional 1972).
3. Issu yang Berkaitan dengan Gemar Membaca
Ketidak-mampuan Membaca (Buta Aksara)
Data dari UNESCO menyatakan bahwa sekitar 1,35 milyar penduduk dunia atau sekitar sepertiga penduduk dunia mengalami buta aksara. Sebagian besar buta aksara tersebut dialami oleh wanita atau 1 : 2 antara pria buta aksara dengan wanita. Sebagian besar penduduk buta aksara tersebut adalah penduduk negara dunia ketiga.
Hingga kini, jumlah penduduk Indonesia buta aksara tergolong masih relatif tinggi. Setelah hampir 60 tahun merdeka, pemberantasan buta huruf masih juga belum tuntas. Data Badan Pusat Statistik 2003 menunjukkan, penduduk buta aksara usia 10 tahun ke atas masih tercatat 9,07 persen atau sekitar 15,5 juta, tersebar di seluruh provinsi (Republika Online, 17 Desember 2004).
Mengapa hingga kini jumlah penduduk buta aksara masih tinggi? Direktur Pendidikan Masyarakat, Ditjen Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Depdiknas, Ekodjatmiko Soekarso, mengungkapkan sejumlah pangkal soalnya. Dia menyatakan, dalam setiap tahun masih terus terjadi adanya siswa usia sekolah dasar yang tidak sekolah atau tidak tertampung di SD kelas 1, 2, dan 3 sekitar 200.000 – 300.000 orang yang disinyalir kembali buta aksara.
Kondisi Pendidikan di Indonesia
Selain jumlah sekolah yang tidak dapat menampung seluruh anak usia sekolah, program di sekolahpun kurang mendukung anak untuk mempunyai kebiasaan membaca. Taufiq Ismail pada tahun 1997 meneliti program membaca dari 13 SMA di dunia mendapatkan hasil yang sangat menyedihkan. Menurut Taufiq Ismail sejak tahun 1943 sampai sekarang tidak satupun SMA Indonesia yang mewajibkan siswanya membaca buku roman. Wajib disini dalam arti kewajiban membaca buku tersebut masuk dalam kurikulum sekolah. Guru memerintahkan siswanya untuk membaca buku, kemudian guru tersebut mewajibkan siswanya untuk membuat ringkasan dan menguji muridnya.

Kondisi Perbukuan Indonesia
Menurut Soekarman Kartosedono (1992), dalam zaman modern dewasa ini perkembangan ekonomi dan pembangunan suatu negara bukan hanya diukur dari tingkat pendapatan (GNP) masyarakat saja tetapi juga dilihat dari tingkat baca tulis, konsumsi kertas, buku dan perkembangan literatur masyarakat. Hal ini tidaklah mengherankan karena sejak dahulu kala, buku telah membuktikan fungsi dan peranannya yang sangat efektif sebagai sarana pendidikan dan pranata ilmu pengetahuan. Buku selain merupakan wahana untuk menampilkan dan memelihara warisan peradaban bangsa, juga berperan sebagai alat ampuh untuk menyebarkan budaya tersebut kepada masyarakat.
Sebuah penelitian mengenai perbukuan bidang sains pernah dilakukan pada tahun 1982 dibiayai oleh Badan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional, dengan kesimpulan antara lain :
Jumlah buku sains yang diterbitkan antara 1972 – 1981 berjumlah 2.233 judul untuk pembaca dari berbagai tingkat pendidikan.
Pada umumnya penerbit, terutama penerbit komersial, belum memperlihatkan prestasi yang memadai dalam menerbitkan judul-judul buku sains.
Penelitian yang sama dilakukan untuk bidang teknologi, dengan kesimpulan antara lain:
Jumlah buku teknologi yang diterbitkan antara tahun 1972 – 1981 berjumlah 4.942 judul, 67,2 % diantaranya adalah buku teknologi pertanian.
Ditinjau dari segi pelakunya, diperoleh kesimpulan bahwa dari seluruh terbitan bidang teknologi, 23 % diterbitkan oleh penerbit universitas, dan 49,1 % oleh departemen dan lembaga-lembaga negara.
Satu lagi penelitian yang sama juga dibiayai oleh Badan Pertimbangan Pengembangan Buku Nasional menyangkut buku bacaan anak-anak (tingkat SD). Kesimpulan dari penelitian itu antara lain:
Jumlah buku anak-anak yang terbit antara tahun 1971 – 1980 adalah 5.519 judul, lebih kurang 50 % diantaranya adalah buku-buku fiksi.
Sekitar 22 % dari terbitan buku anak-anak adalah karya terjemahan dan atau adaptasi.
Setelah itu, sangat jarang diadakan survei yang komprehensif mengenai perbukuan di Indonesia. Pada masa krisis ekonomi, dari jumlah penerbit yang masih aktif menjadi anggota IKAPI, sekitar 15 persen hanya bergantung kepada buku stok atau cetak ulang buku yang diperkirakan masih dicari orang di pasar. Perusahaan penerbitan yang benar-benar masih aktif menerbitkan buku dan judul baru tinggal 10 persen. Akibatnya, produksi buku pada sekitar tahun 2000 merosot tajam, yakni dari sekitar 5.000-6.000 judul per tahun tingal sekitar 2.000 judul saja per tahun.
Penelitian terakhir dilakukan oleh Perpustakaan Nasional RI (2004) menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:
Publikasi Indonesia selama tahun 2002 dan 2003 adalah sebesar 12.709 judul buku yang terdiri dari 6.656 judul buku (52,4 %) diterbitkan pada tahun 2002 dan sebanyak 6.053 judul buku (47,6 %) diterbitkan pada tahun 2003.
Buku-buku tersebut diterbitkan oleh 1.977 penerbit baik penerbit komersial (sebanyak 1169 penerbit atau 59,13 %) maupun penerbit non komersial (sebanyak 808 atau 40,87 %) seperti lembaga pemerintah dan swasta serta perguruan tinggi non penerbit universitas.
Dari lima kota besar (ibukota propinsi di Jawa), kota yang paling banyak menerbitkan buku adalah Jakarta (61,27 %), kemudian diikuti oleh Yogyakarta (15,56 %), Bandung (8, 20 %), Surabaya (1,27 %), dan Semarang (0,71 %). Hal ini sesuai dengan jumlah penerbit (komersial) yang ada di kota-kota tersebut dengan jumlah masing-masing sebagai berikut: Jakarta sebanyak 643 penerbit, Yogyakarta sebanyak 192 penerbit, Bandung sebanyak 107 penerbit, Surabaya sebanyak 44 penerbit, dan Semarang sebanyak 19 penerbit. Jumlah terbitan yang rata-rata 6.000 – 7.000 judul per tahun ini masih terbilang kecil dibanding Jepang atau Thailand yang mencetak 68.000-70.000 judul per tahun (Kompas, 17/5-2004). Sebagai perbandingan data perbukuan dari negara Korea, negara yang terpilih sebagai Guest of Honor Frankfurt Book Fair 2005, mungkin berguna Saat ini, di bidang industri perbukuan, Korea mengandalkan pada produksi buku untuk anak-anak, termasuk di dalamnya komik. Berdasarkan data judul buku yang diterbitkan pada tahun 2002, buku bacaan anak menempati urutan kedua, yaitu 17 persen dari total judul buku. Tempat pertama adalah komik, yaitu 25 persen dari total judul buku yang terbit pada tahun 2002 (Kompas, 18/10-2003).



Pendidikan Seumur Hidup
Dengan keadaan pendidikan formal seperti sekarang ini akan banyak penduduk Indonesia yang tidak dapat mengenyam pendidikan. Pemerintah memang sudah berusaha untuk meningkatkan daya tampung sekolah formal seperti yang dilakukan pemerintahan Soeharto dengan program SD Inpres, kemudian program Wajib Belajar 9 tahun, sekolah (SMP) terbuka dan sebagainya. Namun semua itu belum dapat menampung semua anak usia sekolah. Selain memang daya tampung sekolah yang belum dapat dipenuhi, ada masalah lain yaitu kemiskinan. Banyak penduduk miskin yang tidak mau menyekolahkan anaknya ke sekolah formal walaupun gratis, karena anak buat mereka adalah “mesin uang” yang harus bekerja membantu orang tuanya mencari nafkah.
Jalan keluar untuk mendidik anak-anak putus sekolah tersebut adalah pendidikan seumur hidup (life-long education). Pendidikan ini bisa dilakukan melalui Kejar paket atau Kelompok Belajar Paket A dan Paket B. Bahkan ada Paket C. Pendidikan ini juga dapat dilakukan melalui kelompok ibu-ibu PKK, Karang Taruna dan lain-lain.
Perpustakaan, khususnya perpustakaan umum, merupakan unit yang melayani kebutuhan informasi masyarakat umum sepanjang masa. Karena fungsinya tersebut maka perpustakaan umum dikenal sebagai salah satu unit yang menyelenggarakan pendidikan seumur hidup (life-long education). Oleh karena itu Perpustakaan Umum diharapkan dapat mengembangkan layanan yang mendukung pendidikan seumur hidup tersebut dengan program-program peningkatan layanan sehingga dapat memasyarakatkan gemar membaca dan gemar belajar.
4. Upaya Pemecahan Masalah
Tingkat minat baca masyarakat Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan tingkat minat baca masyarakat bangsa lain. Pernyataan negatif pesimistis ini sering muncul dan diulang-ulang dalam berbagai laporan hasil penelitian dan pendapat para pakar yang dituangkan dalam berbagai tulisan atau pun disampaikan dalam beragam pertemuan ilmiah. Bunanta (2004) menyebutkan bahwa minat baca terutama sangat ditentukan oleh:

1. Faktor lingkungan keluarga dalam hal ini misalnya kebiasaan membaca keluarga di lingkungan rumah
2. Faktor pendidikan dan kurikulum di sekolah yang kurang kondusif.
3. Faktor infrastruktur dalam masyarakat yang kurang mendukung peningkatan minat baca masyarakat.
4. Serta faktor keberadaan dan keterjangkauan bahan bacaan.

Sementara itu dipahami bahwa terdapat hubungan antara minat baca dengan tingkat kecepatan pemahaman bacaan bagi peserta didik.
Faktor selanjutnya yang juga sangat berpengaruh adalah pendidikan di sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Pendidikan di sekolah mendorong anak membaca karena tuntutan pelajaran. Sementara, lingkungan turut mendorong minat baca karena seorang anak melakukan kegiatan sesuai yang dilakukan orang-orang di sekelilingnya. Anak menjadi rajin membaca jika masyarakat di sekitarnya melakukannya.

Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.Pd. dalam tulisannya dengan judul “Minat Baca dan Kualitas Bangsa” di Harian Kompas Selasa, 23 Maret 2004, menyatakan: “ Secara teoritis ada hubungan yang positif antara minat baca (reading interest) dengan kebiasaan membaca (reading habit) dan kemampuan membaca (reading ability). Rendahnya minat baca masyarakat menjadikan kebiasaan membaca yang rendah, dan kebiasaan membaca yang rendah ini menjadikan kemampuan membaca rendah. Itulah yang sedang terjadi pada masyarakat kita sekarang ini.”

Faktor-faktor berikut ditengarai menghambat peningkatan minat baca dalam masyarakat dewasa ini (Leonhardt, 1997):
Langkanya keberadaan buku-buku anak yang menarik terbitan dalam negeri
Semakin jarangnya bimbingan orang tua yang suka mendongeng sebelum tidur bagi anak-anak. Padahal kebiasaan ini merupakan kebiasaanya jaman dulu banyak dilakukan orang tua.
Pengaruh televisi yang bukannya mendorong anak-anak untuk membaca, tetapi lebih betah menonton acara-acara televisi.
Harga buku yang semakin tidak terjangkau oleh kebanyakan anggota masyarakat
Kurang tersedianya taman-taman bacaan yang gratis dengan koleksi buku yang lengkap dan menarik.

 Kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan minat baca
Disamping pembinaan perpustakaan sekolah, hal yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan minat baca adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan minat membaca. Kegiatan tersebut dapat dikembangkan, dan sangat bergantung kepada kreativitas dan inisiatif tenaga pendidik di sekolah. Beberapa kegiatan yang dianjurkan adalah:
Agar guru pustakawan menerbitkan daftar buku anak-anak
Mengundang pustakawan dan para guru agar beerjasama dalam merencanakan kegiatan promosi minat baca.
Mengorganisasi lomba minat baca di sekolah.
Memilih siswa teladan yang telah membaca buku terbanyak.
Melaksanakan program wajib baca di sekolah.
Menjalin kerjasama antar perpustakaan sekolah.
Memberikan tugas baca setiap minggu dan melaporkan hasil bacaannya.
Menceritakan orang-orang yang sukses sebagai hasil membaca.
Menugaskan siswa untuk membuat abstrak dari buku-buku yang dibaca.
Menugaskan siswa belajar ke perpustakaan apabila guru tidak hadir.
Menerbitkan majalah/buletin sekolah.
Mengajarkan teknik membaca kepada siswa.
Memberikan waktu khusus kepada siswa untuk membaca.
Menyelenggarakan pameran buku secara periodik.
Dan lain-lain.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Mohon gunakan kata-kata yang sopan dalam memberikan komentar.