Teks Eksposisi


TEKS EKSPOSISI

Teks eksposisi: teks yang berisi gagasan pribadi atau usulan mengenai sesuatu. Teks eksposisi juga sering disebut argumentasi satu sisi. Dikatakan demikian karena pencipta teks ini mempertahankan gagasan atau usulannya berdasarkan argumentasi yang ia yakini benar tanpa membandingkannya dengan argumentasi dari pihak lain.

Ciri-Ciri:
                                 Ditata dengan struktur teks: Pernyataan Pendapat, Argumentasi, Pernyataan Ulang Pendapat (Penegasan pendapat)
                        Berisi argumentasi satu sisi,
                                 Menggunakan konjungsi seperti pertama, kedua, dan selanjutnya untuk menata gagasan (yang tidak harus urut); atau konjungsi seperti bahkan, juga, sebagai contoh, misalnya, dan dengan demikian untuk memperkuat gagasan; atau kelompok kata yang bermakna konjungtif, seperti kenyataan bahwa, diketahui bahwa, dan dapat digarisbawahi bahwa,
Memanfaatkan kata ganti persona saya, kami, atau kita untuk menyatakan klaim pendapat atau keberpihakan,
                        Memanfaatkan modalitas (akan, pasti, harus, dan tentu) sebagai pewatas



Contoh:
Teknologi Tepat Guna

Program kewirausahaan untuk perluasan kesempatan kerja yang dilakukan lewat terapan teknologi tepat guna (TTG) dapat memberdayakan ekonomi rumah tangga. Kegiatan ini banyak dimanfaatkan, terutama, oleh masyarakat perdesaan. Ada beberapa alasan dan contoh mengapa mengapa TTG dapat memberdayakan ekonomi keluarga. (Pernyataan Pendapat)

Pertama, program kewirausahaan terapan TTG pembuatan susu kedelai dapat meningkatkan taraf hidup tanpa mengurangi tenaga kerja. Adanya terapan teknologi tepat guna akan meningkatkan nilai tambah  dengan  tenaga kerja yang tetap, tetapi penghasilan bisa bertambah. Di samping itu, program ini juga dapat meningkatkan produktifitas. Produk kedelai yang diolah dengan TTG akan menghasilkan kualitas susu kedelai yang lebih baik dalam waktu lebih singkat.
TTG dapat juga digunakan untuk menggali potensi suatu wilayah untuk meningkatkan ekonomi masyarakatnya. TTG dapat menjadi sarana untuk menciptakan peluang kerja mandiri dan memperluas kesempatan kerja. (Argumenetasi/Pendapat).

Oleh karena itu, program tersebut perlu dikembangkan karena terbukti dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. (Penegasan Ulang Pendapat)



Contoh lain
Pemimpin Sosial dan Politik Tidak Harus Mempunyai
Pendidikan Formal yang Tinggi

  
Pernyataan Pendapat
Sudah diketahui oleh semua orang bahwa pendidikan formal itu penting. Akan tetapi, apakah seseorang akan menjadi pemimpin sosial atau pemimpin politik yang bagus pada kemudian hari tidak selalu ditentukan oleh pendidikan formalnya. Diyakini bahwa pengalaman juga menjadi faktor penentu untuk menuju kesuksesan. 


Argumentasi
Betul bahwa pendidikan formal memberikan banyak manfaat kepada para calon pemimpin

atau calon orang terkemuka, tetapi pelajaran yang mereka peroleh dari pendidikan formal tidak selalu dapat diterapkan di masyarakat tempat mereka menjadi pemimpin atau menjadi orang terkenal di kemudian hari. Kenyataan bahwa di sekolah dan di perguruan tinggi, orang hanya “mempelajari” teori, sedangkan di masyarakat, orang betul-betul belajar untuk hidup melalui beraneka ragam pengalaman. Pengalaman semacam inilah yang menghasilkan orang-orang terkemuka, termasuk pemimpin sosial dan politik. Orang-orang terkemuka dan pemimpin-pemimpin itu lahir dari hal-hal yang mereka pelajari di masyarakat. 

Sekadar menyebut contoh orang terkemuka atau pemimpin sosial dan politik, kita dapat menunjuk beberapa nama. Almarhum Adam Malik, konon ia hanya menyelesaikan jenjang pendidikan dasar tertentu, diangkat menjadi Wakil Presiden Indonesia bukan karena pendidikan formalnya, melainkan karena kapasitas yang ia dapatkan dari belajar secara otodidak. Almarhum Hamka adalah contoh pemimpin lain yang lahir dari caranya belajar sendiri. Ia juga menjadi pemimpin agama dan sastrawan terkenal sekaligus karena pengalaman belajar pribadinya, bukan karena pendidikan formalnya yang tinggi. Bahkan, Einstein tidak mempunyai reputasi pendidikan formal yang bagus, tetapi melalui usahanya untuk belajar dan melakukan penelitian sendiri di masyarakat, ia terbukti menjadi ahli fisika yang sangat termasyhur di dunia. 

Pernyataan Ulang Pendapat
Dengan demikian, jelaslah bahwa melalui pendidikan formal orang hanya mempelajari cara belajar, bukan cara menjalani hidup. Meskipun pendidikan formal diperlukan, pendidikan formal bukan satu-satunya jalan yang dapat ditempuh oleh setiap orang untuk menuju ke puncak kesuksesannya.

(Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik, 2013: 103-104)




BC Adetya Rakasihwi - tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Emoticon