Contoh Karya Tulis Ilmiah


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Sebagai dampak penindasan penjajah terhadap bangsa Indonesia maka mulai tumbuh kesadaran untuk menentukan nasib sendiri sehingga melahirkan semangat untuk mandiri dan bebas menentukan masa depannya sendiri. Dalam situasi perjuangan merebut kemerdekaan, dibutuhkan suatu konsep sebagai dasar pembenaran rasional dari tuntunan terhadap penentuan nasib sendiri yang dapat mengikat keikutsertaan semua orang atas nama sebuah bangsa. Dasar pembenaran tersebut selanjutnya mengkristal dalam konsep paham ideologi kebangsaan yang biasa disebut dengan nasionalisme.
Disinilah peran generasi muda sangat dibutuhkan sebagai bentuk nasionalisme terhadap bangsa Indonesia. Pemuda sebagai komponen utama suatu bangsa. Keberadaannya sangat dibutuhkan untuk masyarakat demi kelangsungan dan tercapainya kejayaan bangsa. Generasi muda dipercaya sebagai orang-orang yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan dalam memertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia tercinta. Pembangunan dan kelangsungan bangsa sangat bergantung kepada generasi muda negara tersebut.

1.2       Tujuan Karya Tulis
Tujuan yang akan dicapai penulis dalam karya tulis pemuda ini, yaitu:
1.   Mengajak generasi muda berperan aktif, kreatif, dan inovatif dalam upaya meningkatkan generasi muda yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.
2.   Mengajak generasi muda untuk mencintai kebudayaan lokal sebagai bentuk menjaga jati diri bangsa.

1.3       Manfaat Karya Tulis
Dalam karya tulis pemuda ini, penulis memiliki manfaat bagi pembaca, antara lain:
1.   Menambah informasi dan pengetahuan bagi para pembaca,
2.   Memberikan pengalaman kepada pembaca bagaimana menjadi generasi muda yang baik dan berguna bagi bangsa dan negara.
3.   Memberikan pengetahuan kepada pembaca bagaimana bersosialisasi dengan baik dengan generasi maupun pemuda lainnya..



BAB II
PEMBAHASAN
Generasi Muda untuk Indonesia

2.1.      Pengertian Umum Nasionalisme
Mengacu pada awal tumbuhnya nasionalisme secara umum maka nasionalisme dapat dikatakan sebagai sebuah situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara atas nama sebuah bangsa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetian Nasionalisme adalah “pecinta nusa dan bangsa sendiri”, “memperjuangkan kepentingan bangsanya”, “paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri”, “politik untuk membela pemerintahan sendiri”, “semangat kebangsaan”, atau “kesadaran keanggotaan di sutau bangsa yang secara potensial atau actual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, intergritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu”.
            Nasionalisme dibedakan menjadi dua macam, yaitu nasionalisme dalam arti luas dan nasionalisme dalam arti sempit. Dalam arti luas, nasionalisme adalah paham kebangsaan, yaitu mencintai bangsa dan negara dengan tetap mengakui keberadaan bangsa dan negara lain. Dalam arti sempit, nasionalisme diartikan sebagai mengagung-agungkan bangsa dan negara sendiri dan merendahkan bangsa lain. Paha mini biasa disebut dengan paham chauvimisme. Paha mini dikembangkan antara lain pada masa Jerman di bawah Hitler dan di Italia di bawah Musolini.

2.2       Nasionalisme Indonesia
a.         Prinsip-Prinsip Nasionalisme Indonesia
            Dari perkembangan paham nasionalisme di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa nasionalisme Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah bersifat “majemuk tunggal”, Adapun unsur-unsur yang membentuk nasionalisme (bangsa) Indonesia adalah sebagai berikut:
1.      Kesatuan sejarah
2.      Kesamaan nasib
3.      Kesatuan kebudayaan
4.      Kesatuan wilayah
5.      Kesatuan asas kerohanian



b.         Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Nasionalisme
Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan,
2.      Sanggup/rela berkorban untuk bangsa dan negara,
3.      Mencintai tanah air dan bangsa,
4.      Bangga berbangsa dan bernegara Indonesia,
5.      Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan berdasarkan prinsip Bhineka Tunggal Ika, dan
6.      Memajukan pergaulan untuk meningkatkan persatuan bangsa dan negara.

2.3       Semangat Patriotisme Indonesia
            Selama 350 tahun Indonesia berada dalam cengkeraman penjajah dan selama itu pula bangsa Indonesia mengalami penderitaan. Bangsa yang terjajah tidak dapat menentukan nasibnya sendiri. Seluruh kehidupannya ditentukan oleh penjajah. Pengalaman pahit yang dialami oleh Bangsa Indonesia selama penjajahan tersebut telah mendorong bangsa Indonesia untuk bangkit berjuang, untuk merdeka.
            Dalam sejarah, telah tercatat bagaimana perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Hal ini dapat dilihat dari perjuangan seperti  pertempuran melawan tentara Inggris dan Belanda di Surabaya pada tanggal 10  November 1945. Berapa banyak para pejuang Indonesia yang gugur dalam pertempuran tersebut, tetapi bangsa Indonesia tidak menyerah kalah. Bahkan, para pejuang yang ada semakin terbakar semangatnya menghalau penjajah.
            Apakah yang menjadi daya pendorong (motivasi) para pejuang Indonesia di kala itu? Tidak lain adalah kecintaan mereka terhadap tanah air, bangsa dan negara Indonesia sebagai jiwa dan semangat nasionalisme dan patriotisme. Selain itu, para pejuang kita di dorong oleh semangat jiwa keagamaan.
            Patriotisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “pecinta tanah air”, “cinta kepada tanah air”, “semangat cinta tanah air”, atau “sikap seseorang yang sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya”. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa patriotisme mempunyai ciri-ciri, antara lain sebagai berikut:
a.       Cinta tanah air;
b.      Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara;
c.       Menempatkan persatuan, kesatuan, keselamatan bangsa dan negara di atas pribadi dan golongan.
d.      Berjiwa pembaharuan dan tak kenal menyerah.

2.4.      Perwujudan Nasionalisme dan Patriotisme dalam Kehidupan Sehari-hari
            Kecintaan terhadap negara dan bangsa tersebut bukan hanya ditampilkan kalau ada bangsa lain yang ingin menjajah Indonesia, tetapi dapat diwujudkan dalam kegiatan pembangunan di segala bidang. Dewasa ini, Indonesia sangat memerlukan patriot-patriot bangsa dalam bidang ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
Pada zaman dahulu tahun 1945 kelihatan sekali sikap patriotik ditunjukkan oleh para pejuang Indonesia. Mereka tidak mengharapkan kekayaan atau pangkat dan jabatan. Yang penting bagi mereka Indonesia harus tetap merdeka. “Sekali merdeka tetap merdeka, merdeka atau mati” adalah semboyan para pejuang kemerdekaan pada waktu itu. Sekarang makna patriotisme dan nasionalisme harus diarahkan pada kesadaran membangun negara dan menuntut ilmu untuk meningkatkan daya saing di segala bidang pada era globalisasi ini. Jiwa dan semangat nasionalisme dan patriotisme, yaitu kerelaan berkorban masih tetap diperlukan untuk kepentingan sesama manusia serta untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. Perjuangan dalam menghapuskan kemiskinan, kemelaratan, dan keterbelakangan perlu ditingkatkan.
            Bentuk pengamalan jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat, berkeluarga, dan sekolah bisa dalam berbagai bentuk.
a.       Dalam kehidupan negara
1.      Membayar pajak secara tertib.
2.      Menjaga fasilitas-fasilitas umum, seperti WC umum, halte, terminal, telpon umum, dan lain-lain.
3.      Mengharumkan nama bangsa dalam dunia internasional, misalnya menjadi juara Olimpiade dan lomba-lomba lain tingkat internasional.
4.      Memberikan sumbangan devisa bagi negara, misalnya TKI yang bekerja di luar negeri, pengusaha yang membawa keuntungan perusahaannya di luar negeri ke Indonesia.
5.      Berpartisipasi aktif dalam ikut memberantas korupsi serta nepotisme sesuai dengan aturan yang berlaku.



b.      Dalam kehidupan bermasyarakat
1.      Kerja bakti memajukan daerahnya.
2.      Mendorong masyarakat melalui penyuluhan tentang pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat.
3.      Menjadi orang tua asuh untuk membiayai pendidikan anak tak mampu di lingkungannya.
4.      Menjaga nama baik masyarakat dengan tidak melalukan tindakan tercela.
5.      Menjaga dan mencegah agar lingkungan tetap sehat dalam arti fisik atau moral.
c.       Dalam kehidupan berkeluarga
1.      Menjaga nama baik keluarga.
2.      Berjuang untuk kemajuan dan kesejahhteraan keluarga.
3.      Orang tua yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya dengan kerja keras mencarikan biaya.
4.      Dengan tulus merelakan kepergian putra-putrinya menjadi guru di daerah terpencil.
d.      Dalam kehidupan sekolah
1.      Menjaga nama baik sekolah.
2.      Mengharumkan nama baik sekolah, misalnya menjadi juara dalam lomba di berbagai bidang.
3.      Belajar tekun untuk mendapatkan prestasi yang membanggakan baik bagi sekolah atau bagi dirinya sendiri.
4.      Melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai siswa sesuai dengan tata tertib sekolah
5.      Sumbangan dari para siswa untuk korban bencana alam merupakan partisipasi siswa yang menunjukkan keluhuran budi pekertinya.

2.5.      Nasionalisme, Budaya, dan Generasi Muda Indonesia
Generasi muda. Sebuah istilah yang memperdengarkan begitu banyak mimpi, harapan, dan semangat. Saat ini, generasi muda menjadi fokus masyarakat atau menjadi penentu cita-cita serta pemegang nasib bangsa. Dalam pandangan umum, generasi muda merupakan para penerus bangsa yang dipersiapkan dalam mencapai visi dan misi bangsa. Melalui pendidikan serta bimbingan dari lingkungan, generasi muda kemudian dipercaya untuk memiliki rasa tanggung jawab dalam arah pendahulu yang telah membangun tanah air.
Dalam Sumpah Pemuda yang dibacakan secara serempak oleh seluruh pemuda Indonesia pada 28 Oktober 1928, kita mengerti bahwa “Satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa” dapat membantu para pemuda memahami satu tujuan yang sama dalam memperjuangkan kebebasan dari penjajahan kolonial. Persatuan, patriotisme, serta nasionalisme adalah elemen-elemen esensial yang dapat memperkuat budaya sosial serta menciptakan solidaritas dalam satu gambar persatuan yang memukau.
Kini, kita bertanya-tanya apakah generasi muda kita masih memegang idealisme yang sama dalam satu bahasa, seperti dalam pengertian nasionalisme yang dicetuskan pada tahun 1928. “Ada apa dengan nasionalisme? Perang sudah usai, kan?” adalah opini yang kerap terdengar. “Nasionalisme sudah tidak terlalu diperlukan dalam dunia yang sudah global seperti saat ini.” Generasi penerus mulai tampak goyah, terlena, dan lebih ngerinya lagi: apatis.
Lunturnya nasionalisme menyebabkan terjadinya krisis identitas nasional di kalangan masyarakat. Indonesia meliputi segenap hal yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Namun,  yang membedakannya dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber kekayaan alam, kependudukan, ideologi dan agama, politik negara, ekonomi, serta pertahanan keamanan. Banyak penduduk Indonesia, terutama generasi muda, telah melupakan unsur-unsur kebudayaan yang merupakan salah satu basis dari identitas nasional suatu bangsa. Budaya asing yang menumpang masuk melalui perahu globalisasi telah banyak mengubah pola hidup generasi muda saat ini, termasuk melupakan kultur budaya bangsa sendiri.
Krisis identitas nasional suatu bangsa telah menyebabkan sebagian generasi muda Indonesia mudah meniru, menyebabkan bangsa ini kehilangan kharisma serta pengakuan dari negara-negara lain. Bangsa Indonesia seakan-akan kehilangan keunikan serta partikularitasnya. Dalam pergaulan internasional, misalnya, ketika berbicara mengenai Islam, maka yang menjadi sorotan adalah negara-negara sekitar wilayah Timur Tengah. Meskipun pada kenyataannya, Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia dengan ciri unik yang khas, di mana lima agama yang diakui bersanding sejajar dan hidup berdampingan yang seharusnya dapat menggarisbawahi eksistensi Indonesia di peta internasional.
Indonesia pernah menjadi salah satu negara terkuat setelah melewati berbagai rintangan serta peperangan saat memperjuangkan kemerdekaan. Para pemuda nusantara di bawah pimpinan Ir. Soekarno serta Mohammad Hatta menyerukan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, tepat enam puluh delapan tahun yang lalu. Begitu banyak pengorbanan yang diberikan oleh para pahlawan kita saat itu demi menjamin kehidupan generasi mendatang, yang membuat Indonesia disegani oleh dunia internasional. Kini, kita bisa melihat sendiri betapa sulitnya negeri ini mendapatkan pengakuan dari dunia luar.
Seiring dengan berkembang pesatnya teknologi, pola pikir masyarakat banyak yang dipengaruhi oleh budaya asing, yang terkadang tak sejalan dengan ideologi bangsa.Budaya kita seolah luntur terbawa arus globalisasi. Ironis, karena setelah 3,5 abad lamanya berada di bawah pengaruh budaya asing, hanya memerlukan 68 tahun bagi kita sebagai generasi penerus untuk kembali terlena dengan kultur yang setengah mati berusaha dilepaskan oleh para pejuang kemerdekaan. Kita memang telah berstatus merdeka, tapi apakah kita sudah mandiri? Kemana akan kita bawa peradaban bangsa ini di masa yang akan datang?
Penyebaran budaya asing yang semakin banyak mengikis nilai-nilai budaya daerah harus diperhatikan oleh para intelektual muda, sehingga apa yang menjadi tradisi dan kekhasan suatu daerah akan tetap ada. Kejayaan di masa lalu menjadi sejarah yang bisa dibanggakan dan dijadikan pelajaran oleh generasi penerusnya kelak. Bukan berarti kita lantas harus bersikap konservatif tanpa menerima nilai budaya yang berbeda, berideologi lokal berarti menjadikan nilai-nilai budaya kita sebagai filter dalam menerima nilai budaya asing. Berkearifan lokal juga memiliki arti bersikap terbuka dan terus menerima masukan dari budaya mana pun, dalam rangka memperkaya serta mengaktualisasikan nilai-nilai budaya lokal.
Di dalam era globalisasi dan modernisasi sekarang ini kita memang tidak dapat menampik masuknya budaya asing ke Indonesia. Budaya asing tesebut akan berdampak terhadap masyarakat Indonesia. Kemudahan untuk mendapatkan informasi dan kebiasaan berkompetisi juga merupakan salah satu dampak positif masuknya kebudayaan asing. Sedangkan dampak negatif masuknya kebudayaan asing juga tidak kalah banyak. Sikap individualistis dan mengabaikan nilai-nilai kekeluargaan yang banyak muncul pada generasi muda di Indonesia merupakan salah satu di antaranya. Belum lagi sifat konsumerisme akibat kehadiran banyak produk-produk dari luar negeri.

2.6.      Upaya Meningkatkan Nasionalisme Generasi Muda Indonesia
Rasa nasionalisme, khususnya pada generasi muda saat ini merupakan prioritas utama yang harus dimiliki, karena hal itu merupakan modal perekat untuk mempersatukan seluruh elemen masyarakat yang memiliki berbagai macam perbedaan, baik suku, budaya dan agama.
Semangat nasionalisme harus segera dikobarkan dengan menguatkan empat pilar yaitu Kebhinekaan, Pancasila, UUD 1945 dan NKRI dengan harapan dapat membentuk masyarakat yang berkarakter Pancasila dan berbudi pekerti luhur. Untuk itu, harus ada gerakan bersama-sama untuk membangkitkan semangat nasionalisme sejak mereka masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) agar mereka memiliki karakter kebangsaan yang sesuai cita-cita nasional.
Dalam rangka membentuk dan menumbuhkan rasa nasionalisme bagi generasi muda diperlukan suatu sarana yang dapat melengkapi penyelenggaraan pendidikan baik formal maupun non-formal. Seperti melakukan berbagai kegiatan perlombaan yang dilangsungkan oleh berbagai instansi pemerintah maupun swasta di kota Batam, seperti lomba membaca puisi, pementasan drama, karya tulis ilmiah, ataupun lomba fotografi dan masih banyak lagi dalam memeriahkan hari-hari besar Indonesia.
Disinilah peran generasi muda sangat dibutuhkan sebagai bentuk nasionalisme terhadap bangsa Indonesia. Pemuda sebagai komponen utama suatu bangsa. Keberadaannya sangat dibutuhkan untuk masyarakat demi kelangsungan dan tercapainya kejayaan bangsa. Generasi muda dipercaya sebagai orang-orang yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan dalam memertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia tercinta. Pembangunan dan kelangsungan bangsa sangat bergantung kepada generasi muda negara tersebut.
            Upaya peningkatkan nasionalisme generasi muda sangat diperlukan. Generasi muda yang dibutuhkan negara adalah generasi muda yang selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, generasi muda yang penuh dengan semangat juang yang tinggi, serta memiliki rasa nasionalisme terhadap bangsanya dengan mencintai kebudayaan lokal dan mampu bersikap loyal terhadap pribadi, keluarga, masyarakat, dan negaranya. Inilah upaya meningkatkan nasionalisme para generasi muda.




BAB III
PENUTUP

3.1.            Simpulan
Mengacu pada awal tumbuhnya nasionalisme secara umum maka nasionalisme dapat dikatakan sebagai sebuah situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total diabdikan langsung kepada negara atas nama sebuah bangsa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengetian Nasionalisme adalah “pecinta nusa dan bangsa sendiri”, “memperjuangkan kepentingan bangsanya”, “paham untuk mencintai bangsa dan negara sendiri”, “politik untuk membela pemerintahan sendiri”, “semangat kebangsaan”, atau “kesadaran keanggotaan di sutau bangsa yang secara potensial atau actual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, intergritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu”.
Lunturnya nasionalisme menyebabkan terjadinya krisis identitas nasional di kalangan masyarakat. Indonesia meliputi segenap hal yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Namun,  yang membedakannya dengan bangsa lain seperti kondisi geografis, sumber kekayaan alam, kependudukan, ideologi dan agama, politik negara, ekonomi, serta pertahanan keamanan. Banyak penduduk Indonesia, terutama generasi muda, telah melupakan unsur-unsur kebudayaan yang merupakan salah satu basis dari identitas nasional suatu bangsa. Budaya asing yang menumpang masuk melalui perahu globalisasi telah banyak mengubah pola hidup generasi muda saat ini, termasuk melupakan kultur budaya bangsa sendiri.
Generasi muda. Sebuah istilah yang memperdengarkan begitu banyak mimpi, harapan, dan semangat. Saat ini, generasi muda menjadi fokus masyarakat atau menjadi penentu cita-cita serta pemegang nasib bangsa. Dalam pandangan umum, generasi muda merupakan para penerus bangsa yang dipersiapkan dalam mencapai visi dan misi bangsa. Melalui pendidikan serta bimbingan dari lingkungan, generasi muda kemudian dipercaya untuk memiliki rasa tanggung jawab dalam arah pendahulu yang telah membangun tanah air.
Dalam rangka membentuk dan menumbuhkan rasa nasionalisme bagi generasi muda diperlukan suatu sarana yang dapat melengkapi penyelenggaraan pendidikan baik formal maupun non-formal. Peran generasi muda sangat dibutuhkan sebagai bentuk nasionalisme terhadap bangsa Indonesia. Generasi muda sebagai komponen utama suatu bangsa. Keberadaannya sangat dibutuhkan untuk masyarakat demi kelangsungan dan tercapainya kejayaan bangsa. Generasi muda dipercaya sebagai orang-orang yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan dalam memertahankan kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia tercinta. Pembangunan dan kelangsungan bangsa sangat bergantung kepada generasi muda negara tersebut.
            Upaya peningkatkan nasionalisme generasi muda sangat diperlukan. Generasi muda yang dibutuhkan negara adalah generasi muda yang selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, generasi muda yang penuh dengan semangat juang yang tinggi, serta memiliki rasa nasionalisme terhadap bangsanya dengan mencintai kebudayaan lokal dan mampu bersikap loyal terhadap pribadi, keluarga, masyarakat, dan negaranya. Inilah upaya meningkatkan nasionalisme para generasi muda.

3.2.            Saran
Berdasarkan simpulan tulisan di atas, maka penulis memberikan saran kepada pembaca, antara lain:
1.      Saat ini generasi muda seharusnya dapat berjiwa nasionalisme untuk kemajuan bangsa dan negara ini.
2.      Saat ini generasi muda seharusnya dapat berperan aktif, kreatif, dan inovatif bagi bangsa dan negara.

3.      Saat ini generasi muda dapat berperan aktif dalam kegiatan sosial yaitu Palang Merah Indonesia guna membentuk lingkungan hidup yang sehat.


BC Adetya Rakasihwi - tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Emoticon