Beberapa Majas



Sebab, langit memecah awan yang seharusnya tak terpisah
Dan dalam pergumulannya
Cuaca menerka hina yang hina dibalik semesta
Tampak jelas, Jelas nampak
Lewat gaya dalam rotasinya
Jelas tampak, Nampak jelas
Lewat sinisme yang ironi namun sarkasme

Lalu prespektif selalu antitesis pada ambiguitas
Melewati celahnya hiperbola, begitu pleonasme
Sesaat menurun bagaikan antiklimaks
Beberapa detik kemudian memuncak pada klimaks hingga tamat karena skak mat
Bukan sebuah simile yang sesuai layaknya personifikasi
Sebab alegon telah beradu peran dalam alegori
Karena metafora, anafora, dan epifora bukanlah akal pikiran yang sama
Ianya menjelma menjadi eufimisme bahkan mampu mengubah diri dan mengasosiasikannya ibarat litotes. Namun, tetap akan gagal jikalau beradu dengan paradoksisasi.

Sementara kisah menyebut metonimia sebagai kefatalan yang salah
Dalam repetisi-repetisi yang pasti terulang kembali
Dalam simbolik, lewat kreasi imaji yang diculik
Dalam sinekdoke akibat buah pikir terus digodok
Dalam imperatif akibat kreatif melalui narasi deskriptif

Dan,
Retorik tak kan pernah berguna. Karena klarifikasi adalah introgatif yang sensitif
Kembali saja pada gubahan, demi kesinambungan harmonis dalam paralelisme yang romantis
Sebab awan, tak seharusnya terpisah akibat langit yang memecah..

Dompak, 23 Oktober 2016


BC Adetya Rakasihwi - tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Emoticon