Pedagogik


Pedagogi yang sering difahami sebagai ilmu tentang pembelajaran, ternyata memiliki kontek yang lebih luas dari teaching skill. Pedagogi tidak hanya merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses dan hasil belajar siswa, melainkan juga mencakup aspek-aspek lain pembelajaran yang mendukung peningkatan kualitas hasil pembelajaran. Relasi antara pedagogi dengan teaching skill sendiri bisa digambarkan seperti dalam konfigurasi berikut ini.

Proses pembelajaran merupakan bagian integral dari kompetensi pedagogi yang harus dimiliki setiap pendidik, guru dan dosen. Sudah merupakan keyakinan umum, bahwa pengelolaan proses pembelajaran harus dilakukan dan bahkan dikembangkan berbasis pengetahuan dan keterampilan karena tidak mungkin proses pembelajaran berhasil tanpa didukung pengelolaan yang cerdas. Karena itu, setiap guru dan dosen harus mengenal, memahami, dan meyakini pentingnya ilmu mengajar dan ilmu membelajarkan para mahasiswa, termasuk mengapresiasinya dengan melatih diri masing-masing bagaimana membelajarkan para mahasiswa dengan efektif, baik sebelum masuk kelas, selama di dalam kelas, maupun sesudah kelas. Memang tingkat urgensinya berubah seiring meningkatnya kedewasaan dan integritas belajar para pembelajar sendiri.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Menuju Pedagogi yang Efektif
Pedagogi bukan semata menyiapkan rencana pembelajaran, pengembangan strategi pembelajaran dan melakukan evaluasi proses dan hasil belajar siswa, tapi juga mencakup berbagai aspek yang mendukung suksesnya proses pembelajaran. Belajar dari Victoria –salah satu negara bagian Australia yang sudah maju dalam penyelenggaraan pendidikan— mengeluarkan buku panduan (guide line) tentang pedagogi bagi para siswa di tahun ke-12. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa pembelajaran akan menjadi sebuah proses terbaik jika memenuhi enam prinsip sebagai berikut:[6]
1.      Lingkungan pembelajaran mendukung dan produktif. Untuk itu, seorang guru harus mampu mempersiapkan lingkungan sekolah yang mampu:
A.      Mengembangkan hubungan positif antara guru dengan siswa melalui pemahaman yang baik untuk semua siswanya,
B.      Mengembangkan budaya yang saling menghargai satu sama lain, antara siswa dengan siswa dan antara guru dengan siswanya,
C.     Mengembangkan strategi pembelajaran yang membuat para siswa percaya diri dan berani mencoba dalam belajarnya.
D.     Menjamin sukses para siswanya melalui pengembangan kegiatan belajar yang mampu mendorong usaha para siswa untuk belajar dan memberikan pengakuan atas capaian belajar mereka.
2.      Lingkungan pembelajaran harus mendorong kebebasan siswa, interdependensi antar siswa dan antara siswa dengan guru, serta mampu mendorong motivasi siswa untuk belajar. Untuk itu, para guru harus mampu:
A.      Mmendorong dan mendukung para siswanya untuk bertanggung jawab terhadap proses belajar.
B.      Menggunakan strategi pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan dan kerjasama.
3.      Kebutuhan psikologis dan latar belakang sosiologis, perspektif dan ketertarikan para siswa harus terefleksi dalam program pembelajaran. Untuk itu, guru harus mampu:
A.      Menggunakan strategi pembelajaran yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan dan interest para siswa.
B.      Menggunakan strategi pembelajaran yang memberikan dukungan para siswa untuk belajar dengan cara berbeda.
C.     Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berbasis pengetahuan dan pengalaman sebelumnya,
D.     Memperkuat pengalaman, kemampuan dan penguasaan para siswa terhadap teknologi.
4.      Para siswa harus ditantang dan didukung untuk memiliki kemampuan berfikir dengan level yang tinggi dan mampu mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan nyata. Untuk itu, para guru harus mampu:
A.      Mengembangkan program pembelajaran dengan sekuensi yang mampu mendorong mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan mampu mengembangkan koneksitas antara ide dengan ide, koneksitas teori yang akan membentuk konsep prilaku yang komprehensif.
B.      Mendorong diskusi ide-ide substantif.
C.     Mendorong peningkatan kualitas proses pembelajaran serta memperoleh capaian prestasi belajar yang baik.
D.     Menggunakan strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk bertanya dan melakukan refleksi.
E.      Menggunakan strategi pembelajaran yang mendorong siswa untuk melakukan penelitian dan mampu melakukan problem solving.
F.      Mampu mengembangkan strategi pembelajaran yang dapat mempercepat siswa untuk mampu berfikir imaginatif dan kreatif.
5.      Penilaian merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran. Untuk itu, guru harus mampu:
A.      Mendesain evaluasi dan penilaian yang mencakup seluruh tujuan pembelajaran.
B.      Memastikan bahwa para siswa selalu memperoleh feed back melalui hasil tes mereka, dan mendorong untuk aktif belajar lebih lanjut.
C.     Mampu mengembangkan kriteria penilaian secara eksplisit.
D.     Mengembangkan penilaian yang mendorong para siswa untuk melakukan refleksi dan self assessment.
E.      Menggunakan data penilaian sebagai bahan rencana pembelajaran yang berikutnya.
6.      Belajar itu berkaitan kuat dengan kehidupan masyarakat di luar kelas. Untuk itu, guru harus mampu:
A.      mendorong para siswa untuk selalu terlibat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kontemporer,
B.      mendorong siswa untuk bisa berinteraksi dengan masyarakat, lokal, nasional dan mancanegara,
C.     memanfaatkan teknologi dengan cara-cara yang merefleksikan sebagai masyarakat modern yang mengikuti kemajuan teknologi.
Pada akhirnya, pedagogi itu bukan sekedar pembelajaran di dalam kelas. Ia merupakan dimensi yang luas, sejalan dengan semakin kompleksnya persoalan pendidikan untuk menghantarkan para siswa memasuki dunia yang semakin kompetitif. Seorang guru juga harus mampu mengontrol lingkungan sekolah dan lingkungan kelas agar menjadi arena belajar yang sangat kondusif sehingga memungkinkan para siswa menjadi anak-anak yang independen dan dapat mengembangkan komunikasi sosial antar siswa sehingga menghargai keberdaaan orang lain. Kemudian, guru juga harus bisa mengelola kelasnya sebagai arena pembelajar sehingga para siswa menjadi pembelajar yang baik dan mampu menjadi pembelajar sepanjang hayat. Inti kompetensi pedagogik adalah setiap guru harus mampu menyusun kurikulum operasional, merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang lebih banyak mendorong aktifitas belajar siswa, dapat menyusun instruen evaluasi dengan baik, dan dapat mendorong motivasi para siswa untuk belajar dengan serius sehingga menjadi siswa-siswa berprestasi.
Pedagogi bukan hal sederhana sebagaimana banyak ilmuwan persepsikan, sehingga ada pemeo bahwa mengajar yang baik sangat tergatung pada penguasaan bahan ajar. Semakin baik penguasaan atas materi, maka seorang pengajar akan bisa mengajar dengan baik. Kemudian, muncul pemeo lain, bahwa guru yang baik adalah guru yang bisa mengajar apa saja. Kini perhatian dunia pendidikan terhadap pedagogi berkembang sangat baik, seiring dengan persaingan yang terus meluas dalam dunia profesi dan menuntut setiap anak mampu mengimbangi kompetensi sejawatnya, agar mampu melakukan kolaborasi bisnis, jasa, atau beragam aktifitas profesi yang tidak dibatasi kendala geografis, tapi sudah terbuka dalam sebuah kawasan besar, regional dan juga global. Mengajar bukan sedang melahirkan ilmuwan, tapi mempersiapkan setiap pembelajar menjadi profesional. Ilmuwan dipersiapkan dengan penelitian yang dilakukan oleh para sarjana jenjang magister dan doktor. Oleh sebab itu, mengajar para siswa sekolah dasar dan menengah serta para mahasiswa diploma dan sarjana, adalah mempersipkan mereka untuk menjadi profesional, yang menguasai sains dan teknologi, ilmu dan keterampilan, teori dan praktik, serta menjadi orang-orang kreatif dan inovatif sehingga mampu menjadi pemenang dalam kompetisi yang ditunjukkan dengan kemampuan berkolaborasi dan bermitra dengan sejawatnya pada level regional dan global.  Dengan demikian, kesempurnaan mengajar bukan dipancarkan oleh kehebatan penguasaan materi yang mengabaikan keterampilan mengajar, dan juga bukan oleh kehebatan teaching skill dengan mengabaikan penguasaan materi, tapi oleh keunggulan hasil belajar siswa yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan potensi siswa dengan teknik dan cara yang sesuai. Oleh sebab itu, perimbangan penguasaan materi menjadi sangat penting sepenting penguasaan teknik dan strategi membelajarkan para siswa, sehingga mereka terlahir sebagai anak-anak cerdas dan berdaya saing.

Proses pembelajaran bukan sedang membentuk ilmuwan. Pembelajaran hanya untuk menghantarkan setiap pembelajar menjadi profesional dalam bidangnya, dan profesi selalu lekat dengan pengetahuan, skil, keterampilan dan keahlian untuk mengukur tingkat pembayaran, upah, pendapatan atau takehome fee seseorang. Ilmuwan hanya dibentuk dengan penelitiandan diharapkan justru dari level pendidikan magister dan doktor. Oleh sebab itu, hasil belajar tidak boleh hanya diukur dengan tahu, faham, tapi dalam kognitif saja sudah menargetkan pengalaman aplikasi ilmu, dan berakhir  dengan perubahan seseorang sesuai dengan ilmu dan keterampilannya, dan ilmu serta skil dan keahliannya itu teradaptasi dengan baik dalam sikap dan perbuatan mereka. Oleh sebab itu, proses pedagogi juga memiliki mandat untuk mampu mewujudkan taksonomi hasil belajar yang di Indonesia masih diukur dengan parameter Taksonomi Bloom, karya monumental Benyamin S. Bloom.
Bloom membagi taksonomi hasil belajar itu menjadi tiga ranah secara eskalatif, yakni kognitif, efektif dan psiko-motorik. Kemampuan kognitif akan menjadi dasar berkembangnya kemampuan afektif, dan kompetensi psikomotorik akan lahir setelah seorang siswa atau mahasiswa memiliki kemampuan afektif dalam pokok bahasan atau cabang keilmuan yang mereka pelajari. Kenneth D. More, sebagaimana dikutip oleh Rosyada, menjelaskan, ada 15 level hasil belajar yang bergerak secara eskalatif, yakni sebagai berikut:[10]
1.      Ranah Kognitif, yakni ranah pengetahuan, terdiri dari enam (6) level sebagai berikut.
A.      Knowledge, yakni kemampuan siswa mengetahui sesuatu ilmu pengetahuan, pola implementasi pengetahuan baru tersebut.
B.      Comprehension, yakni pemahaman terhadap ilmu baru melalui kajian tentang defoinisi, ruang lingkup dan pola pelaksanaanya.
C.     Application, yakni pengetahuan bagaimana ilmu baru itu diaplikasikan dalam sebuah karya profesi, kehidupan sosial atau lainnya, serta keterampilan mengaplikasikan tersebut, sehingga pengethaun dan keterampilannya sudah berubah dengan bertambah pengetahuan barun serta keterampilan baru.
D.     Analysis, yakni kemampuan menguraikan ilmu pengetahuan yang baru dikuasainya, sehingga bisa mengenal dan memahami detail dari ilmu pengetahuan dan teknologi baru tersebut.
E.      Sintesis, yakni kemampuan untuk melakukan unifikasi, atau membulatkan kembali konsep yang sudah dielaborasikan secara detal, dan disatukan kembali menjadi satu rumusan umum. Atau kalau dalam bentuk teknologi, seluruh unsurnya diurai satu persatu, lalu disatukan kembali sehingga menjadi sebuah alat utuh.
F.      Evaluasi, dan terkadang juga disebut dengan justifikasi, yakni kemampuan menilai apakah ilmu pengetahuan dan keterampilan barunya itu sesuatu yang baik bermanfaat untuk dirinya atau tidak.

2. Ranah Afektif, yakni ranah sikap, terdiri dari lima (level sebagai berikut:
1.      Receiving, yakni sikap jiwa untuk menerima ilmu pengetahuan, teknologi yang baru dinilai oleh pengetahuannya sebagai sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk dirinya.
2.      Responding, yakni kemampuan para para pembelajar untuk memberi respon dalam bentuk sikap jiwa untuk mengkonfirmasi kebenaran atau kesalahan ilmu pengetahuan dan teknologi baru yang sudah dinilai baik bermanfaat atau tidaknya bagi kehidupan dia.
3.      Valuing, yakni kemampuan para pembelajar menanamkan nilai-nilai baru yang sudah disimpulkan oleh kecerdasan berfikir dan diterima serta diresponi oleh jiwa mereka, dalam level ini, mereka harus dilatih bagaimana menanamkan nilai-nilai tersebut menjadi nilai dirinya.
4.      Organising, yakni kemampuan untuk mengorganisasikan nilai-nilai yang sudah diterima sebagai hasil proses penjang belajar dengan menambah pengetahuan dan keterampilan baru, dari berbagai mata pelajaran yang akan mampu mebentuk mereka menjadi insan kamil, dengan berbagai pengathaun dan keterampilan baru.
5.      Characterization, yakni kemampuan untuk menggunakan nilai-nilai yang sudah dimiliki menjadi pandangan hidup, dan mempertahankannya sebagai nilai-nilai pribadi yang sudah dimiliki sebagai karakter pribadi yang kuat.

3. Ranah Psikomotorik, yakni ranah implementasi nilai-nilai yang sudah dimiliki. Pada ranah ini terdapat empat level kompetensi yang harus dibina lewat proses pembelajaran, yakni:
 1.      Observing, yakni para siswa dibawa pada situasi implementasi nilai-nilai yang sudah diajarkan, difahami dan sudah menjadi karakter diri mereka. Atau dibawa untuk       menyaknikan praktik, proses kerja dan penggunaan alat teknologi pada sebuah latar yang sebenarnnya atau pada laboratorium yang memvisualisasi tindakan, praktik dan penggunaan alat tersebut, sehingga mereka bisa memahami bagaimana mereplikasikannya pada diri mereka.
2.       Imitation, yakni kemampuan siswa untuk meniru tindakan, penggunaan alat teknologi atau  perbuatan yang sedang mereka pelajari, dan berusaha melakukannya sesuai dengan yang mereka lihat, dan mereka amati dalam kenyataan empirik atau kenyataan artifisial.
3.       Practicing, yakni kemampuan para siswa untuk mempraktikan apa yang sudah dia yakini dan sudah dia amati opelaksanaannya, bahkan sudah mencoba menirukannya, baik dalam bentuk tindakan ataupun penggunaan alat-alat teknologi tertentu.
4.      Adapting, yakni kemampuan untuk menjadikan semua yang sudah diyakininya itu, sudah dipraktikan dalam proses pembelajaran, atau dilatih di sekolah, sehingga sudah cakap melaksanakannya atau menggunakannya, menjadi bagian dari tradisi, kebiasaan, kepribadian atau keterampilan para siswa.
Selanjutnya, pedagogi yang baik dalam mempersiapkan para siswa menjadi siswa yang cerdas berdaya saingadalah mereka harus dibelajarkan untukmembina habit of minddengan sejumlah besar kebiasaan positif yang perlu dikembangkan sebagai berikut:
1.      Persisting, yakni kemampuan memilih, menganalisis dan memutuskan untuk bekerja dalam wilayah keahlian dan kewenangannya. Tidak mudah menyerah dan mampu menyelesaikan masalah dalam wilayah profesinya.
2.      Managing impulsivity, yakni mengelola sikap jiwa yang terkadang meledak-ledak, memiliki strategi untuk menyelesaikan masalah, dan memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi berbagai cara dalam menghadapi berbagai masalah, serta memiliki kemampuan untuk mengantisipasi konsekwensi dari setiap pilihan.
3.      Listening to others, yakni kebiasaan mendengar pendapat orang lain, dan mampu memahami pendapat orang lain yang diikuti kemudian dengan sikap empati.
4.      Think flexibility, yakni berfikir fleksibel, bersikap terbuka, dan selalu memiliki keinginan untuk mengubah pemikiran, dan dengan cara meyakinkan dapat menjelaskan pemikirannya itu pada orang lain.
5.      Thinking about thinking, yakni membina kompetensi untuk bersikap kritis untuk memikirkan pemikiran sendiri. Inilah kompetensi metakognitif yang merupakan hasil paling ideal dari sebuah proses pembelajaran.
6.      Striving for accuracy and persisting, selalu berusaha untuk bisa melakukan sesuatu dengan akurat dan sesuai dengan prototipe yang dirancang atau melakukan sesuatu sesuai rencana.
7.      Quetioning and posing problems, yakni kemampuan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang baik sesuai dengan tema pembelajaran yang mereka sedang kerjakan, dan mampu menyusun pertanyaan yang bisa difahami orang lain atau gurunya.
8.      Applying past knowledge to the new situation, menggunakan ilmu yang sudah dikuasai untuk situasi baru.
9.      Thinking and Communicating with clarity and precision, yakni kemampuan untuk berfikir akurat dan berkomunikasi secara efektif, baik komunikasi tertulis maupun lisan, dan selalu berusaha menggunakan bahasa yang tepat menggambarkan ide dan pemikirannya.
10.  Gathering data through all sense, mengumpulkan data dengan menggunakan semua indra, dengan cicipan, penciuman, atau dengan cara-cara lain yang dimiliki fisik setaip siswa atau mahasiswa.
11.  Creating, Imaging and innovating, yakni bahwa setiap siswa harus dilatih agar memiliki kemampuan berimajinasi, melaksanakan imajinasinya sehingga menjadi kenyataan dan bahkan setiap siswa harus dilatih untuk bisa mengembangkan inovation, lewat imajinasi dan mempelajari karya-karya yang sudah ada untuk dimodifikasi.
12.  Responding with wonderment and awe, yakni kemampuan siswa/mahasiswa untuk merespon sesuatu dengan kekaguman.
13.  Taking Responsible risks, yakni memiliki kompetensi tanggung jawab terhadap apa yang sudah dia putuskan, dan siap menghadapi risiko yang akan muncul dari keputusannya.
14.  Finding humours, yakni memiliki kompetensi jiwa yang humoris, periang, antusias, dan mampu menjaga untuk selalu gembira dalam melaksanakan tugas.
15.  Thinking interdependently, yakni kompetensi untuk berfikir komprehensif, bahwa satu tindakan akan menghasilkan sesuatu yang baik jika didukung oleh banyak kompetensi yang saling ketergantungan satu sama lain.
16.  Learning Continuously, memiliki kompetensi menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Proses pembelajaran akan menjadi sangat baik dan menghasilkan para lulusan yang cerdas berdaya saing, siap berkompetisi di mana saja dalam bidang keahlian yang ditekuninya, jika menghasilkan banyak kompetensi dalam banyak parameter. Kompetensi dalam parameter taxonomy of thinkingmultiple intelligenttaxonomy Bloom dan habit of mind. Keempat wilayah kompetensi tersebut tidak ada mata pelajarannya, dan hanya bisa dilatihkan dalam proses pembelajaran. Melatih berfikir empirik, umpamanya, guru atau dosen harus mempersiapkan proses pembelajaran yang melibatkan para mahasiswa dengan proses analisis data, apakah data sekunder, atau mungkin data primer yang relevan dengan pokok bahasan mada mata pelajaran atau mata kuliah yang mereka pelajari. Demikian pula dengan kompetensi-kompetensi lainnya.
Melihat pada dinamika pemahaman pedagogi tersebut, maka secara komprehensif taxonomy of pedagogical competence, adalah sebagai berikut:[11]
No
Kompetensi
Deskripsi
1
Kompetensi Penyiapan Rencana Pembelajaran
Penyusunan Kurikulum Operasional
Penyiapan Silabus
Kemampuan analisis pedagogik untuk setiap pokok bahasan
Analisis karater bahan ajar yang akan dibelajarkan   pada siswa
Penyaiapan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kemampuan menganalisis sikap dan kejiwaan siswa
Kemampuan merumuskan tujuan pembelajaran
Mampu menganalisis dan merencanakan kegiatan belajar siswa
2
Kompetensi Pedagogik umum
Kompetensi pelaksanaan pembelajaran dan pendidikan sesuai yang diinginkan secara ideal
Kompetensi menggunana Teknologi Informasi, baik sebagai sumber belajar maupun sarana pembelajaran
Kompetensi untuk mengembangkan proses pembelajaran aktif, kreatif dan inovatif
Kompetensi untuk melakukan evaluasi proses dan hasil belajar
Kompetensi untuk memahami sosial budaya para siswanya dan memotivasi mereka untuk belajar
Kompeensi untuk mengembangkan pembelajaran yang mengembangkan kompetensi berfikir
Kompetensi untuk mengembangkan proses pembelajaran yang mengembangkan kecerdasan majemuk
Kompetensi untuk mengembangkan proses pembeajaran yang melatih pengembangan habit of mind
3
Kompetensi pedagogik spesifik
mampu mengembangkan pmbelajaran untuk para siswa pra-sekolah
mampu mengembangkan pembelajaran untuk siswa sekolah dasar
mampu mengembangkan pembekajaran untuk sekolah menengah umum
mampu mengembangkan pembelajaran untuk siswa berkebutuhan khusus
Memiliki kompetensi untuk mengembangkan metode yang sesuai dengan pokok bahasan
memiliki kompetensi untuk memahami perkembangan dan kebutuhan jiwa para siswa dengan pengetahuan psikologi pendidikan
memiliki kompetensi didaktk metodik
memiliki kompetensi komunikasi yang baik
memiliki kemampuan cognitif yang baik
4
Memiliki transferable competence
Memiliki kompetensi learning to learn
memiliki kompetensi untuk bertindak secara efektif
memiliki kompetensi komunikasi yang efektif
Memiliki kompetensi pengelolaan informasi
Memiliki kemampuan action research
memiliki kompetensi manajerial
5
Kompetensi pengelolaan atau manajemen pembelajaran
Memiliki kemampuan berorganisasi
Memiliki kemampuan mengelola kelas sehingga mendukung proses pembelajaran yang efisien dan efektif
memiliki kompetensi untuk kolaborasi sesama kolega guru
Memiliki kompetensi untuk beradaptasi dengan lingkunag kelas dan sekolah.
Memiliki kompetensi menyesuaikan diri dengan lingkungan
Memiliki kompetensi untuk mengelola kapabilitas para siswa
Memiliki kemampuan mengelola diri sendiri sebagai pembelajar sepanjang hayat

Guru, walaupun memiliki keterampilan luar biasa tentang pembelajaran dalam kelas, dan terlatih melalui berbagai training, serta memiliki keterampilan penggunaan teknologi informasi sebagai media dan sumber belajar, jika dia bersikap negatif terhadap profesi guru, tidak memiliki passion untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran, dan juga tidak memiliki kebanggaan sebagai pendidik, maka skil, keterampilan dan keahlian tersebut tidak akan bermanfaat banyak untuk peningkatan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Dengan demikian, sikap positif terhadap profesi, menjadi faktor utama yang dapat menggerakan semua potensi yang dimiliki setiap guru untuk mendorong peningkatan mutu pembelajaran dan pendidikan.

Demikian pula dengan dengan knowledge dan ability. Dua faktor ini penting sekali bagi setiap guru profesional. Dia harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk diajarkan, sebagaimana juga harus memiliki pengetahuan bagaimana mengajar yang baik. Kemudian, dia juga harus memiliki ability atau kemampuan mengimplementasikan semua pengetahuan, skill dan keahliannya mengajar dalam praktik di dalam kelas. Implementasi, aplikasi dan penerapan semua metode, teknik, dan berbagai kompetensi pedagogik, menjadi bagian yang sangat penting untuk peningkatan kulaitas proses serta hasil pendidikan dan pembelajaran. Dengan demikian, kompetensi pedagogik harus menekankan kesiapan, keseriusan dan kemampuan para guru dalam mengaplikasikan semua pengetahuan, pengalaman, skil dan keterampilan mengajar dalam pelaksanaan tugasnya sebagai guru profesional, serta mampu mengadaptasikan implementasi pengetahuan dan keterampilannya itu dalam berbagai situasi, termasuk keragaman kultur siswa.

Kompetensi pedagogik, sebagaimana sudah dikelompokkan dalam matriks, terbagi dua, yakni general pedagogical knowledge dan pedagogical content knowledgeGeneral pedagogical knowledge adalah berbagai prinsip dasar tentang pengelolaan dan pengorganisasian kelas, strategi pembelajaran, dan semua yang terkait dengan proses pembelajaran dari perencaaan sampai evaluasi, dan lintas kurikulum, yakni bahwa semua mata pelajaran membutuhkan pengetahuan, skil dan keahlian yang sama. Sementara  pedagogical content knowledge adalah pedagogi yang diintegrasikan pada bahan ajar dari sebuah subjek yang sangat specifik, yang dapat mempengaruhi plihan-pilihan desain dan teknik pembelajaran, pengelolaan dan pengorganisasian kelas, serta evaluasi proses dan hasil belajar.[14]Berbagai kompetensi yang akan menjadi faktor utama keberhasilan para alumni dalam pengembangan profesi mereka, baik kompetensi berfikir, kecerdasan majemuk atau habit of mind, termasuk pedagogical content of knowledge, yang harus dilakukan secara simbiosis, pokok bahasan mendukung terhadap  pencapaian kompetensi-kompetensi tersebut, dan juga pelatihan kompetensi berfikir, kecerdasan majemuk dan habit of mind akan memperkuat pemahaman content of knowledge.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa
Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadiankompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”
Standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RAguru kelas SD/MI, dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK*.
A. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi Pedagogik adalah kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Sub kompetensi dalam kompetensi Pedagogik adalah :
1. Memahami peserta didik secara mendalam yang meliputi memahami peserta didik dengan memamfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif, prinsip-prinsip kepribadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.

2. Merancang pembelajaran,teermasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran yang meliputi memahmi landasan pendidikan, menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

3. Melaksanakan pembelajaran yang meliputi menata latar ( setting) pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.

4. Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran yang meliputi merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan denga berbagai metode,menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery level), dan memamfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.

5. Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya meliputi memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik, dan memfasilitasipeserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.


Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Sub kompetensi dalam kompetensi kepribadian meliputi :
1. Kepribadian yang mantap dan stabil meliputi bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga menjadi guru, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.

2. Kepribadian yang dewasa yaitu menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etod kerja sebagai guru.

3. Kepribadian yang arif adalah menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemamfaatan peserta didik, sekolah dan masyarakat dan menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.

4. Kepribadian yang berwibawa meliputi memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadappeserta didik dan memiliki perilaku yangh disegani.

5. Berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan meliputibertindak sesuai dengan norma religius (imtaq, jujur, ikhlas, suka menolong) dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

C. Kompetensi Profesional

Kompetensi Profesional adalah penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap struktur dan metodologi keilmuannya.
– Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung pelajaran yang dimampu
– Mengusai standar kompentensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang pengembangan yang dimampu
– Mengembangkan materi pembelajaran yang dimampu secara kreatif.
– Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
– Memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangakan diri.


Kompetensi Sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
– Bersikap inkulif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agara, raskondisifisik, latar belakang keluarga, dan status sosial keluarga.
– Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat.
– Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah RI yang memiliki keragaman social budaya.
– Berkomunikasi dengan lisan maupun tulisan

SUMBER:





BC Adetya Rakasihwi - tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Emoticon